Berbicara..
Berbicara adalah hal yang “paling penting”
dalam kehidupan terutama proses bersosialisasi.
Berbicara memang membantu kita
untuk mengungkapkan suatu perasaan, menyampaikan pendapat, bercanda,
melakukan hal baik, hingga hal yang buruk.
Berbicara juga digunakan untuk
melakukan suatu pembelaan.. entah membela yang benar atau membela yang salah.
Berbicara
dapat diartikan sebagai suatu hal yang harus dilakukan, karena populernya si
berbicara hingga peribahasapun berbicara bahwa “mulutmu adalah harimaumu” hingga ungkapan lain seperti “lidah
yang lebih tajam daripada pedang”. Semuanya masih dalam konteks berbicara dengan artian menggunakan mulut.
Apakah berbicara hanya menggunakan mulut?
Hahaha..
Itulah, seharusnya anda mengerti apa yang saya maksud.
Berbicara secara luas tidak hanya menggunakan mulut, anda juga dapat
menggunakan anggota tubuh yang lain untuk berbicara.
Menggunakan tangan untuk berbicara? salah?
Menggunakan kaki untuk berbicara? Salah?
Semuanya relatif, sesuai dengan kondisi yang ada.
Masalah yang ingin sekali saya sampaikan, merupakan uneg-uneg dari hati yang paling dalam, sekaligus suatu
keadaan yang tidak dapat saya sampaikan menggunakan mulut saya sendiri terkait
dengan “Berbicara”.
Bagi orang lain berbicara adalah keahlian mereka, namun sebagian
lainnya menganggap berbicara adalah kelemahan mereka.
Bagi saya sendiri
berbicara adalah KELEMAHAN saya. KELEMAHAN !
Bukan karena saya “tidak dapat berbicara” (bisu),
melainkan karena memang saya “tidak dapat berbicara”(tidak ahli berbicara).
Untuk orang-orang disana yang saya hormati, mengertilah.. saya
akui bahwa kelemahan saya adalah berbicara.. saya sangat kurang sekali dalam
hal menyampaikan suatu tanggapan, yap.. MENYAMPAIKAN....
saya perjelas lagi .. MENYAMPAIKAN.
Bila terdapat suatu hal yang perlu ditanggapi,
sejujurnya benak saya telah memproses apa yang seharusnya saya sampaikan..
namun, mulut saya tidak dapat menyampaikannya, alhasil apa yang ada
di benak saya hanya dapat saya sampaikan melalui tulisan.. entah itu di blog, diary, atau
status facebook.
Keadaan seperti itu selalu terjadi di hadapan orang-orang yang statusnya “asing”
bagi saya. Asing dalam konteks ini berarti tidak mengenal saya atau mereka
mengenal saya namun hanya sekedar covernya saja.
Seperti ketika saya dihadapkan pada seorang guru, atau dosen yang hanya
mengenal wajah dan nama saya. Dalam keadaan seperti itu, saya hanya dapat
menyampaikan apa yang mereka tanyakan dengan singkat. Kemudian bila beliau
menanyakan bagaimana atau mengapa, saya tidak menyampaikan sesuatu yang singkat seperti
sebelumnya, melainkan suatu penjelasan yang lebih panjang, namun tetap saja
dalam range yang termasuk singkat. Kecuali bila beliau menanyakan lagi hal yang
lebih mendalam.. saya akan menjawabnya dengan lebih detail.
Itulah mengapa bila saya diletakkan dalam sebuah forum diskusi dengan
peserta yang notabene “PANDAI BERBICARA” , orang-orang disana akan men-judge bahwa saya adalah salah satu peserta yang
sama sekali tidak BERBICARA, padahal kenyataannya SAYA JUGA TURUT BERBICARA,
bedanya..
mereka/peserta yang lain berbicara panjaaaaaaaaaang lebaaaaar hinggaa keluar
konteks namun saya hanya berbicara singkat dan tidak keluar konteks. Begitulah..
hal tersebut selalu terjadi..
Silahkaan.. untuk orang-orang yang disana.. silahkan anda men-judge bahwa
saya TIDAK BERBICARA SAMA SEKALI.. silahkan...
Itu hak anda , hak mereka yang men-judge saya.
Jujur.. untuk keadaan saya yang seperti ini, saya membutuhkan
seseorang yang telaten mengajak saya berbicara, saya membutuhkan
orang yang pengertian yang dapat “mengajarkan saya bagaimana cara untuk
berbicara”.
Jujur.. ketika saya berada dalam keadaan seperti itu.. dapatkah anda tidak “mencaci
maki” saya? Sekalipun hal tersebut anda lakukan secara implisit.
Jujur.. bila saya berada dalam keadaan dimana saya “tidak dapat
menyampaikan apa yang saya pikirkan” dapatkah anda tidak mengeluarkan kata-kata
seperti “ayo.. kamu yang daritadi sama sekali ga ngomong..” atau kata – kata yang
lain seperti “semuanya bisa menjawab kecuali Balinda”.
Jujur.. bila anda mengatakan hal yang menyakitkan seperti itu.. saya akan
lebih tidak berbicara daripada sebelumnya.. bahkan bisa jadi saya tidak akan
berbicara sama sekali.
Saya butuh dorongan bukan “kritikan pedas”.
Saya bukan tipe orang yang dikritik pedas kemudian berubah.
Saya adalah tipe orang yang perlu sedikit dorongan untuk berubah.
Sindiran halus yang diberikan kepada saya..
akan lebih mendorong saya untuk
berubah..
Namun bila kritikan pedas adalah sesuatu yang diberikan kepada saya..
jujur saya lebih memilih untuk membuangnya.
Jujur saya menangis setelah kata-kata ini disampaikan oleh beliau yaitu..
“ayo.. kamu yang daritadi sama sekali ga ngomong..”
dan..
“semuanya bisa menjawab kecuali Balinda..”
Saya akan lebih down-down dan down lagi bila kritikan pedas itu diberikan..
dan saya akan lebih pendiam lagi bila hal tersebut terjadi..
Dan yang terakhir.. tulisan di Blog ini akan semakin bertambah.
terima kasih.